cool hit counter

PWM Sumatera Utara - Persyarikatan Muhammadiyah

 PWM Sumatera Utara
.: Home > Naskah Pengajian

Homepage

REVITALISASI KEBANGSAAN


Ketika KHA Dahlan pendiri Muhammadiyah memberikan sinyal yang kuat untuk mem bangun bangsa membangkitkan semangat kejuangan kepada warga Muhammadiyah, bukan hanya untuk kepentingan hidup perorangan, keluarga dan masyarakat tapi yang sangat penting adalah melahirkan Negara merdeka, berdaulat, dan bermartabat. Usaha jihad kiyai yang demikian diberikan penghargaan oleh Negara sebagai pahlawan Nasional, di mana perlawanan terhadap penjanjah tidak saja dilakukan secara ideologis, yakni dengan memperkuat iman dan takwa umat melalui dakwah dan pendidikan serta rasa cinta tanah air agar mampu membendung misi penjajah, tapi juga membangun ekonomi umat, bahkan sampai perlawanan fisik.

Ba’da kiyai perjuangan dan perlawanan terhadap keangkkuhan dan kedurjanaan penjajah semakin dahsyat. Terbukti dalam sejarah Laskar jihad terbentuk diseantero tanah air dan semua potensi tenaga, harta dan pikiran dikerahkan secara optimal, bahkan sampai perlawanan lewat diplomasi dengan Negara sahabat dilakukan secara simultan. Tidak dapat di elakkan, korban jiwapun di jatuhkan sebagai syuhada dan sebagai pejuang Tidak dapat dielakkan, korban jiwapun berjatuhan sebagai syuhada dan sebagai pejuang bangsa, begitu pula musnah dan hilangnya harta benda milik rakyat tak terhitung jumlahnya, sampai akhirnya cita cita luhur dari pahlwanan menjadi kenyataan, yakni proklamasi kemrdekaan 17 Agustus 1945.

Ternyata revolusi belum berakhir, perlawanan berlanjut dengan pertempuran pada kles pisik I dan kles II smpai tahun 1949, Akibat ulah tentara sekutu dan kebusukan diplomasi belanda, kader bangsa dan rakyat merapatkan barisan dan akan senjata mempertahankan kemerdekaan demi keutuhan Negara bangsa. Karena itu darah dan air mata kembali membasahi bumi pertiwi tercinta, sebagai persembahan mulia anak kandung revolusi. Posisi jihad pada darul harb ni membuktikan perjuangan adalah di atas segalanya, sehingga operasi mobilisasi umum sebagai panggilan jihad dan diterjemahkan untuk berkorban apa saja sehingga di tetapkan sebagai fardlu Ain

Pada saat penyerahan kekuasaan pemerintahan kepada Negara telah selesai, maka dengan serta merta Negara Bangsa yang menitikberatkan anak negeri sebagai objek koeban usai sudah. Kini saatnya anak negri menikmati hasil dan buah perjuangan mereka dalam bentuk kesejahteraan. Dan pada saat ini pula awal diletakkanya pembangunan di berbagai bidang, termasuk rehabilitas berbaga insfrastruktur yang hancur dan harta benda rakyat telah porak poranda ketika perlawanan berlangsung. Dari sini pula Negara sejahtera mulai ditegakkan (tahun (1950), menjadikan anak negeri berdaulat dan menjadi subjek pembangunan. Langkah berikutnya menetapkan Muhammad Hatta  sebagai perdana mentri dalam Kabinet 10, kemudian diteruskan oleh Muhammad Natsir sebagai Perdana Mentri pertama dalam Negara kesatuan Republik Indonesia dengan Kabinet Parlementer dan berakhir tahun 1951.

Dalam era Negara sejahtera ini, para penyelenggara Negara benar benar menempatkan rakyat sebagai komponen pembangunan, program bertumpu untuk mengangkat martabat, deraat dan harkat para pejuang. Penyelenggara Negara mampu menunjukan satu kata dengan perbuatan kelurah sama menurun, kebukit sama mendaki dengan masyarakat, sehingga tercatat sampai berakhirnya cabinet Burhanudin Harahap (BH) 1955 – 1956 merupakan kondisi kesejaheraan masyarakat terbaik. Keadaan ini ditandai dengan daya beli masyarakat cukkup tinggi dan pasar bergairah. Parlementer cabinet jatuh bangun, tapi konsistensi kebersamaan sebagai wujud senasib dan sepenanggungan dengan rakyat system pemerintahan berjalan dengan baik.

Reinkernasi

Tahun 1956 Muhammad Hatta mengundurkan diri dari wakil presiden, disebabkan beda prinsip arah pembangunan Negara dan president soekarno. Dari titik perbedaan inilah bermula malapetaka bagi rakyat dan Negara sehingga beberapa pemerintahan propinsi mendeklarasikan pemerintahan sendiri dan terjadilah pergolakan di Daerah, seperti DI/TII, PRRI dan PERMESTA. Dua dasawarsa kemudian dengansangat mengejutkan keluarlah pernyataan Muhammad Hatta korupsi telah menjadi budaya dan bengawan ekonomi Indonesia soemitro Djojohadikusomo memperkirakan 30 % APBN dikorupsi. Pada kurun waktu ini rakyat kembali menadi objek “perlengkap penderita” keserakahan elit penguasa untuk meraup keuntungan pribadi dan golonan. Reinkernasi Negara bangsa dalam wajah baru menjadi epedemi yang menular ke mana mana menggerogoti pori pori kehidupan masyarakat.

Formulasi nasionalisme dalam ujud cinta Negara dan bangsa dibungkus apik sebagai symbol kebersamaan dan kebersamaan dalam retorika pemimpin. Para pemimpin mengklaim telah melaksanakan perbaikan penghidupan untuk rakyat, namun hal itu hanya terbatas dalam pernyataan tak kunjung hadir dalam kenyataan. Ahmad syafii maarif dalam menerobos kemelut hal 144 menegaskan : “oleh sebab itu, nasionalisme Indonesia jika ingin punya masa depan harus secepatnya mengubah orientasi dan mengubah sasaran tembaknya dari yang serba asing kepada londo ireng. Tanpa perubahan sasaran bidik ini maka nasionalisme Indonesia tidak ada gunanya, dan oleh sebab itu layak punya punya masadepan, sebab substansinya yang hakiki tidak pernah dilaksanakan dalam cara kita berbangsa dan bernegara ini “ artinya elan vital kebangsaan yang lebih menitik beratkan untuk kepentingan Negara secara simbolis, tapi diberi baju kerakyatan dalam wujud kesejahteraan, layak dilakukan reorintasi. Untuk kepentingan itulah dikedepankan kesejahteraan rakyat dalam segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tiga Pilar

Cita cita Nasional sebagai Negara merdeka, berdaulat, adil dan makmur seprti tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang demikian luhur, mestilah menjadi fondasi dan pilar yang kokoh untuk bangunan Negara Indonesia dengan segala tiang tiang penyangga lainya secara bersinerji dan berkolaborasi. Lebih dari itu, cita cita merupakan kepercayaan dan mandate rakyat kepada Negara agar berjalan percaya diri dengan bekal jiwa kejuangan dan pantang menyerah menghadapi segala bentuk tantangan dalam barisan permanen yang menyatu.  Karena itu keberhaslan menunaikan amanat rakyat harus tampak secara riil dalam berbagai lini jehidupan. Taraf kesejahteraan orang banyak adalah menjadi ukuran nyata, dimana tampak kesehatab para kaum alit cukup memadai, terpenuhi kebutuhan dasar untuk layak kehidupan dibidang papan, sandang dan pangan, silaturahim dalam berinteraksi social terlihat nyata, adab berpolitik dalam perwujudan kenegaraan berlaangsung dinamis dan berkeadilan. Untuk pembaca dimensi keberhasilan tersebut dapat di golongkan kepada tiga komponen :

 Pertama : Politik, sebagai aksis dan pilar demokrasi menjadikan terjadi komunikasi dua arah, antara rakyat yang memberikan hajat dan inspirasinya untuk diperjuangkan melalui wakilnya di lembaga perwakilan;dengan Negara sebagai penentu dalam kebijakan dalam membangun bangsa sesuai kehendak rakyat. Partai politik yang membawa mandate untuk di terjemahkan menjadi program aksi oleh pemerintah lewat wakilnya di parlement, benar benar focus lahir dan batin dengan perjuangan allout disertai vis dan misi yang jelas lagi transfaran, sehingga undang undang yang di lahirkan dari rahim lembaga pemerintahan dan lembaga legislative dipastikan berpihak kepada pemberi mandat

            kedua  : Ekonomi, sebagai perwujudan kesejahteraan rakyat sudah barang tentu dengan megolah kekayaan Negara berupa sumber daya alam dan potensi manusia dengan seoptimal dan semaksimal mungkin. Para pengelola ekonomi mengerti betul dataran dasar basis kehidupan rakyat, sehingga kebijakan di bidang perekonomian senantiasa membangkitkan gairah praktisi di dunia mata pencharian secara simultan. Karena itu kapital masyarakat yang di dukung oleh spirit yang pantang menyerah seyogyanya menjadi tumpuan kekuatan ekonomi nasional. Patokan ini  menjadi sangat penting dalam usaha membangun kebersamaan, dimana telah terbukti nyata mengangkat martabat anak negri sejak dulu kala. Baik di jaman penjajahan, perjuangan kemerdekaan dan pada dasawarsa awal proklamasi. Adalah nyata dihadapkan kita bahwa kemelaratan dan kemiskinan  yang menjadi warisan penjajah seharusnya sudah sirna dengan jebatan emas kemerdekaan, manakala para pemimpin ekonomi yakin dengan potensi etos kerja dari dahulu bangsa, sayang adopsian format diluar akar ekonomi bangsa tidak membuah hasil.

Ketiga, Sosial Budaya, sebagai modal pebangkir semangat dan kekuatan basis masyarakat untuk berbuat membangun peradaban maju dan modern. Keragaman nilai adat istiadat yang dianut oleh anak bangsa pada satu sisi menjadi perekat dalam melakukan integrasi social dan interaksi social dengan penuh tajam dan penuh toleransi, sedang pada sisi yang lain menjadi tenaga penggerak menghidupkan misi Negara di berbagai kepentingan, terutama menghadapi ancaman culture. Begitu juga kemajemukan agaa yang dianut dapat dan bisa memperkokoh potensi bangsa lewat melintasi cinta tanah air. Hal itu telah tebukti saat merbut kemerdekaan sebagai tekad satu kepentingan utntuk bergerak melawan ketidakadilan dan kezaliman. Barangkali dengan kearifan mendayagunakan potensi ini bentuk program aksi intik menyejahteakan masyarakat dan umat akan didukung dengan tulus dan ikhlas.

Bilamana titik nurani yang dimiliki pada social dan budaya ini tidak mendapat tempat yang layak dalam berbangsa dan bernegara, sangat jelas akan menjadi bola liaryang berwujud dalam bentuk primordialisme, fragmantisme, anarkisme, dan fanastime. Gejala kebekuan nurani disebabkan ada yang salah urus, dibeberapa tempat dan peristiwa telah menunjukan kehadiranya, sehingga menimbulkan kegaduhan dan mungkin jug ketakutan. Menjemput kembali keramahan nurani yang telah pernah tereduksi tak dapat dilakukan dengan sekali jadi namun memerlukan proses dan waktu disertai biaya yang tidak sedikit. Apalagi disusupi budaya asing yang kehilangan moral citra nilai kebangsaan akan menambah rumit pengenjawwantahan isu kebajikan martabat anak negri. Kini saatnya mengembangkan nurani yang dkemas dengan keteladanan para pemimpin dan jauh dari moral buruk, nampaknya jati diri meninggikan martabat anak negri.

Vitalitas kebangsaan

            Diatas telah ditengahkan secara singkat tentang kesejahteraan dan tujuan luhur Negara, dengan maksud ada mata rantai yang terkait erat dan tidak terputus dalam melihat sejatinya bangsa ini. Kebangsaan kita menjadi bangsa yang besar ini dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa lebih dengan komposisi penganut agama islam (0,822 %); Kristen katolik (8,92 %) ; hindu (1,81 %); budha (0,84 %); Kong Hu Cu (0,82 %); dan lain lain (0,20%) dalam ahmad Syafii Maarif ( “menggunggah Nurani Bangsa”serta luas wilayah Indonesia : 2.027.087 km2 (Ensiklopedi Indonesia jld 3, hal 1414), menjadi terganggu akibat ulah para elit bangsa yang korupsi, Indonesia tertengger di papan atas terkorup di dunia. Tercatat Negara ini kehilangan pulau terluas akibat diplomasi yang lemah, bahkan dianggap bangsa kuli/budak oleh Negara tetangga, juga di anggap Negara teroris, pernah pesawat komersial tak boleh terbang ke eropa, belum lagi mafia kasus yang mencenderai keadilan, mungkin adalagi lain. Tapi ini adalah puncak gunung es kelakuan munkar yang mengusik nurani anak negri.

Sudah sepantasnya jama’ah muhammadiyah sebagai kader bangsa bergandengan tangan mulai menelusuri arah pembangunan bangsa yang benar seprti pernah dicita ictakan para pelaku sejarah. Bahkan kebijakan dan program aksi harus bertumpu kesejahteraan rakyat banyak. Sebagaimana telah ditemukan oleh para ahli ekonomi dan penyelenggara Negara tempo dulu. Grand concept ini telah terbukti ampuh membela kepentingan rakyat, terutama bila dikaitkan dengan baru pulihnya kemandrian kekuasaan Negara pasca perang melawan penjajah pada kles kedua, mungkin ini disebut system ekonomi kerakyatan, sebagaimana tercantum pada sila kelima “ keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia “. Dalam pemerintahan islam klasik dicontohkan : ketika amirul mukmin umar bin khathab dalam kunjunganya menjumpai rakyatnya yang kelaparan, langsung memberikan sekarung gandumdari tangan Umar sendiri

Sejalan dengan itu AL quran menyebutkan dalam surat al A’raf

7:96
 

 

“ jikalau sekiranya  penduduk negeri negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat – ayat kami ) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatanya.”

ddaghvhavdshvshvcc

dari ayat Nampak jelas bahwa potensi rakyat sangat menetukan kedatangan penghasilan dari curahan kasih saying Tuhan, dan begitu juga harta terpendam di perut bumi laut dan sungai secara berkelanjutan, dengan sarat pneduduknya yang tasamuh dan ketaatan yang tinggi sebagai manifestasi iman dan takwa, serta silahturahim fungsional. Semua itu adalah buah kerja keras pemimpin negeri baik sebagai lembaga eksikutif, legislative, yudikatif ataupun pemimpin informal masyarakat.

Bagaimana menerjemahkan bangsa sejahtera sesuai ayat diatas secara realitas tentulah tidak mudah, namun tidak bisa. Hanya dengan menempatkan pemimpin dekat dengan rakyat, “didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting”. Orientasi kerakyatan dengan membakarhabis sifat sifat bangsawan namun menghadirkan sifat sifat kebangsaan “duduk sama rendah tegak sama tinggi” dalam tindakn dan sikap pelayan. Jika hal itu tidak diwujudkan dengan seksama penuh rasa tanggung jawab, adalah tidak sah siksaan dan penderitaan dating silih berganti. Semoga kesadarn tidak pernah sirna dalam nurani disemua lini kekuasaan, serta doa dan dakwah dari yang dikuasai tak pernah berhenti.Amin

Disampaikan di pengajaian oleh : Firdaus Naly, tingkat wilayah , tgl 24/11/2009

:// yus

 

 

  

 

 

|<<< 1 2 3 >>>|

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website